Jumat, Juli 06, 2012



بسم الله الرحمن الرحيم
KITAB-KITAB ILMU HADIS
DI INDONESIA

By:
Asrowi

A. Pendahuluan
Para pengarang buku bidang hadits dan ilmu hadits (Ulumul Hadis) yang berbahasa Indonesia, baik yang klasik maupun baru, secara umum sangat dipengaruhi oleh buku-buku (Kitab) turats yang berasal dari bahasa arab. Hal ini memang sesuatu yang wajar, sebab Ilmu Hadis pada kenyataannya tidak banyak berkembang sebagaimana disiplin ilmu lain yang bersifat umum.
Menyangkut masalah karya ilmiah, tentunya masing-masing pengarang memiliki kecenderungan sang berbeda. Walaupun kelihatannya nampak sama, namun setelah diteliti tentu memiliki karakter atau corak yang berbeda. 
Ada buku ilmu hadis murni yang dikarang dengan pembahasan yang cukup panjang dan mendetil, contohnya Buku-buku karangan Hasbi al-Siddiqy, ada juga yang diperkaya dengan unsur kajian langsung yang dibarengi dengan memperkaya contoh-contoh pembahasan seperti buku karya A. Hasan, ada juga yang mefokuskan kajian sanad saja, misalnya buku karya Muhammad Rofiq yang berjudul Sistem Isnad, dan masih banyak lagi corak atau ragam bentuk kajiannya yang di antaranya berbentuk kajian hadis.
Ini adalah daftar karya yang beredar di masyarakat yang biasanya dikonsumsi oleh para mahasiswa-mahasiswa pada umumnya.

Buku-buku Ilmu Al-Hadis Murni


  1. Abdul Basith Bin Yusuf, Koreksi Ulang Syaikh al-Bani, Jakarta : Pustaka Azzam, 2003
2.      Abdul Chalid Mukhtar, Hadis Nabi Dalam Teori dan Praktek, Jakarta : TH Pres
3.      Abu Su’ud, Prosedur Penulisan Hadis, Surakarta : Muhamadiyah Univercity, Press 2000
4.      Ahmad Husnan, Kajian Hadis Metode Takhrij, Jakarta : Pustaka Kautsar,1993
5.      Ahmad Husnan, Takhrij Hadis Riwayat Bukhari Muslim, Jakarta : Kautsar, 199
6.      Ahmad Sutarmadi, al-Imam at-Tirmidzi Peranannya dalam Pengembangan Hadis  dan Fiqh, Jakarta : PT Logos Wacana Ilmu, 1998
7.      Ali Mustofa Yaqub, Hadis-Hadis Bermasalah, Jakarta : Pustaka Firdaus, 2003
8.      Ali Mustofa Yaqub, Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Hadis Dalam Ilmu Hadis, Jakarta Pustaka Firdaus, 1996
9.      Ali Mustofa Yaqub, Peran Ilmu Hadis Dalam Pembinaan Hukum Islam, Jakarta Pustaka Firdaus, 1999
10.  Badri Khaerumen, Studi Kritik Atas Kajian Hadis Kontemporer, Bandung : Rosda Karya, 2004
11.  BM, Biografi Syaikh al-Bani Mujaddid dan Ahli Hadis Abad ini, Bogor : Pustaka Imam Syafi’i, 2003
12.  Dosen Tafsir Hadis Fak. Ushuluddin, Studi Kitab Kitab Hadis, Yogyakarta : Teras, 2003
13.  Erfan Subahar, Menguak Keabsahan as-Sunah, Jakarta : Kencana, 2004
14.  Fatchur Rahman, Wacana Studi Hadis Kontemporer, Yogyakarta : Tiara Wacana, 2002
15.  Hasim Abas, Kritik Matan Hadis Versi Muhaddisin dan Fuqaha, Yogyakarta : 2004
16.  M. Abdurrahman, Pergeseran Pemikiran Hadis Ijtihad al-Hakim dalam Menentukan Status Hadis, Jakarta : Paramadina, 2000
  1. Miftah Farid, Sunah Sumber Hukum Yang Kedua, Bandung : Pustaka, 1997
18.  Muhammad Najib, Pergolakan Politik Umat Islam Dalam Kemunculan Hadis Maudhu’, Jakarta : Pustaka Setia
19.  Suhudi Ismail, Hadis Nabi Menurut Pembela dan Pengingkarnya, Jakarta : Bulan Bintang, 1998
20.  Suhudi Ismail, Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual : Telaah Ma’ani Hadis Tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal dan Lokal, Jakarta : Bulan Bintang, 1994
21.  Usman Sa’roni, Otentitas Hadis Menurut Ahli Hadis dan Kaum Sufi, Jakarta : Pustaka Firdaus 2000
22.  Yunahar Ilyas dan M. Mas’udi, Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadis, Yogyakarta : LPPI, 1996
23.  Yunahar Ilyas, Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadis, Yogyakarta  UPP UMY, 1996



Buku Terjemah Kajian Ulum Al-Hadis


1.Al-Ghazali, Studi Kritik Atas Hadis Nabi; Antara Pemahaman Tektual dan Kontekstual, Penerjemah Muhammad al-Baqir, Bandung : Mizan, 1994
2.Abdullah Bin Ali al-Qusyaimy, Memahami Hadis Musykil, Penerjemah Kathie Suhardi, Solo : Pustaka Mantik
3.Abu Lubabah, Pemikiran Hadis Mu’tazilah, Penerjemah Usman Sya’rani, Jakarta : Pustaka Firdaus 2003

4.Al-Bani, Irwa al-Ghazali ; Telaah Kritis Terhadap Matan Hadis Kitab Manar as-Sabil, Penerjemah Khairun Naim.
5.Al-Bani, Kedudukan as-Sunah Dalam Islam, Penerjemah Anshor Firdaus, Jakarta : Gagasan Indo 1988
6.G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis Mesir, Penerjemah Ilyas Hasan, Bandung : Mizan, 1999
7.Ibnu Hazm al-Damsyiqie,  Asbabul Wurud, Penerjemah, Suwartas Wijaya dan Zafrulla, Jakarta : Kalam Mulia, 1996
8.Izzuddin Husain, Menyikapi Hadis-Hadis Yang Bertentangan; Hadis Nasikh dan Mansukh, Penerjemah Wajidi Sayadi, Jakarta : Pustaka Firdaus, 2004
9.MM. Azami, Menguak Keabsahan Hadis-Hadis Hukum, Penerjemah Asyrofi Sodri, Jakarta : Pustaka Firdaus, 2004
10.  MM. Azami, Pembela Eksistensi Hadis, Penerjemah Nurul Huda, Jakarta : Pustaka, 1997
11.  MM. Azami, Pengkajian Hadis Kaedah dan Persaratan, Penerjemah Zaenal Azzam, Kualalumpur Pustaka Salam 1998
12.  Mustofa al-Siba’i, Sunah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam, Penerjemah Nurcolis Majid, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1995
13.  Team Dar al-Bazz, Sejarah Hadis Qudsi, Penerjemah Wawan Junaedi, Jakarta : Pustaka Azzam, 2005
14.  Yassin Dutton, Sunah, Hadis dan Amal Penduduk Madinah; Studi Tentang Sumber Hukum Islam, Penerjemah Dedi Junaedi, Jakarta : Akademi Presindo


Dari beberapa daftar buku-buku baik ilmu hadis murni atau yang berbentuk kajian penulis akan sedikit memaparkan metodologi dari masing-masing bentuk kajian, di antaranya ilmu hadis murni yang berbahasa Indonesia dan ilmu hadis yang terjemahan dari bahasa arab. 
Uraian pembahasan metodologi dari ilmu hadis yang berbahasa Indonesia murni penulis mengangkat karya A. Hasan yang berjudul Mustalah Hadis jadi pokok kajian, alasan penulis memilih Karya A. Hasan menjadi pokok kajian, sebab memuat sisiplin ilmu hadis yang disertai cintoh-contoh.
Sekilas akan penulis paparkan tentang metodologi dari buku Ilmu Hadis karya A. Hasan. Dari segi penulisannya A. Hasan pertama kali menjelaskan masing-masing definisi baik secara lughah maupun menurut istilah, selanjutnya masing-masing bahasan diuraikan sebagaimana pada penulis hadis terdahulu menjabarkan pembagian dari arti bahasan. Contohnya hadis sahih terbagi menjadi dua bagian, sahih lidzatih dan lighairih.  Kemudian masing-masing bahasan disertakan pula contoh-contoh, berikut cara memahaminya.  Misalnya pada halaman 30 .
            Artinya : Kata Bukhari telah menceritakan kepada kami Abd Allah bin Yusuf, (ia berkata) telah menceritakan kepada Kami Malik dari Nafi’, dari Abdullah bahwa Rasulullah saw. Bersabda : Apabila mereka itu bertiga, janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisikan dengan tidak bersama ketiganya.

            Selanjutnya, rawi-rawi itu ditelaah langsung oleh A. Hasan dengan pendekatan Takhrij,  dengan menuliskan I’tibar sanadnya, lalu masing-masing rawi dikaji dengan pendekatan Jar wa Ta’dil, apakah kesuluruhan perawi itu siqah atau tidak, sehingga definisi sahih betul-betul bisa dihidangkan kepada pembaca dengan jelas.  Kesimpulannya, kalau seseorang membaca buku A. Hasan sudah langsung bisa merasakan penelitian hadis, sebab setiap penilaian rawi selalu disertakan dengan referensi yang jelas dan lengkap.
            Dalam menulis bukunya A. Hasan mengkaji secara lengkap, di antaranya ruang lingkup Ulumul Hadis seperti pembahasan hadis mutawatir, ahad, sahih, hasan, dha’if, ilmu Tahammul wa al-‘Ada, Jar wa Ta’dil, Tubaqatur Ruwah, julukan rawi baik laqab maupun kunyah, memaparkan cara meneliti (memeriksa) hadis, menerangkan indek buku, indek perawi, dan diakhiri dengan pencatuman daftar pustaka. 
            Dalam menulis bukunya A. Hasan secara lengkap dan terperinci menuliskan sumber bacaan setiap beliau memaparkan sesuatu khususnya masalah para perawi hadis.  Inilah sekilas tentang profil manhaj buku karya A. Hasan yang berjudul Ilmu Mustalah Hadis.

Uraian pembahasan metodologi dari buku ilmu hadis yang terjemahan penulis mengangkat karya Mahmud ath-Thohan yang berjudul Mustalah Hadis jadi pokok kajian, penulis memilih Mahmud ath-Thohan menjadi pokok kajian, sebab buku ini biasa dikaji di kalangan pesantren dan mahasiswa sebagai salah satu referensi penting dalam disiplin ilmu hadis.
 Mahmud Ath-Tohan dalam merilis bab-bab dalam bukunya yang berjudul Mustalah Hadisnya memang tidak jauh berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yaitu, menjelaskan sepatah dua patah kata seputar sejarah asal muasal ilmu hadis yang dilanjutkan dengan menuliskan nama-nama kitab ilmu hadis.
Selanjutnya, beliau mengawali kajiannya dengan definisi-definisi yang terkait dengan pengertian yang bermuara pada hadis misalnya, pengertian ilmu mustalah, hadis, khabar, atsar, isnad, sanad, matan, musnad, musnid, muhadis, hafidz dan hakim.  Kemudian, pengkaji ilmu hadis dari segi kuantitas hadis baik yang bersifat mutawatir maupun ahad, kemudian hadis ditinjau dari segi kualitas (maqbul) yang diisi dengan bahasan hadis sahih, hasan, muhkam mukhtalif dan hadis nasikh mansukh. 
Lalu membahas tentang kemardudan suatu hadis yang berpangkal pada hadis dha’if yang dipisah menjadi dua bagian.  Pertama, dha’if sebab terputusnya sanad dan tercelanya (cacat) rawi.  Untuk pembahasan terputusnya sanad yang dihiasi dengan bahasan mu’allaq, mursal, mu’dhal, munqati’, mudalas, mursal khafi  dan mu’anan mu’an’an.  Untuk pembahasan kedua tentang cacatnya rawi beliau mengisinya dengan bahasan maudhu’, matruk, munkar dan lain sebagainya yaitu, yang terkait dengan cacatnya rawi.
Kemudian, mahmud ath-Thahan melanjutkan kajiannya dengan mentelaah ulang seputar khabar maqbul dan mardud yang ditandai dengan bentuk kajian kabar yang diragukan antara magbul dan mardud. Tidak ketinggalan beliau membahas tahammul wa al-ada’, jarh wa ta’dil disajikan dengan bentuk pembahasan yang cukup lengkap yang disetai dengan sighah-sighahnya. 
Pembahasan tentang tatakrama (akhlaq) seorang muhaddis maupun pencari hadis beliau juga sajikan, yang dilanjutkan dengan pembahasan perincian isnad, lalu ditutup dengan bahasan ilmu thabaqah ar-ruwah.
Mahmud ath-Thohan dalam merilis dari masing-masing pokok bahasan disajikan dengan sangat singkat baik pengertian secara kebahasaan maupun istilah.  Adapun mahmud ath-Thohan memiliki ciri khas menamai setiap bab maupun sub bab dengan nama khabar bukan hadis.  Di dalam setiap pembahasan tidak ketinggalan  beliau menyertakan contoh-contoh, lalu memaparkan kehujahan dari tiap-tiap kajian ilmu hadis itu, dan mengakhiri kajiannya dengan menyertakan referensi kitab-kitab tertentu untuk memperdalam dari setiap kajian itu sendiri.
Contoh dari terjemahan Mustalah Hadis karya Mahmud ath-Thahan :
Khabar Mutawatir :
a. Definisi :
(1) Menurut bahasa (etimologi) : adalah isim fa'il yang keluar dari masdar "tawatur" arti-nya silih berganti. Jika anda ucapkan ' 'tawataral matha-) artinya adalah hujan turun silih berganti tak henti-hentinya.
(2) Menurut istilah (terminologi) : adalah apa saja yang diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut kebiasaan tidak mungkin mereka sepakat untuk berdusta.
Pengertian daripada definisi di atas adalah hadits atau khabar yang telah diriwayatkan pada setiap tingkatan sanadnya oleh pera-wi yang banyak sekali di mana akal biasanya menetapkan ketidak-mungkinan mereka untuk bersepakat membikin dan membuat khabar ini..

b. S y a r a t ;
Dari uraian definisi di atas menjadi jelaslah bahwa kemuta-watiran tidaklah mungkin terwujud dalam khabar melainkan dengan syarat empat.
(1) Hendaklah hadits itu diriwayatkan oleh orang banyak sedangkan batasan paling sedikit orang yang meriwa-yatkan itu masih dipersengketakan dan masih perbeda-an pendapat, adapun pendapat yang unggul mengatakan sepuluh orang
(2) Perawi yang banyak ini harus terdapat di dalam semua tingkatan sanad.
(3) Manurut adat mereka tidak mungkin bersepakat bertin-dak bohong
(4) Sandaran khabar mereka adalah indera, seperti ucapan mereka : kami mendengar, kami melihat, kami menyen-tuh atau ........................
Adapun jika sandaran khabar mereka adalah akal seperti pendapat mereka (entang barunya alam, maka khabar dalam keadaan demikian tidak bisa dikatakan sebagai mutawatir.

c.   H u k u m n y a :
Suatu yang sudah mutawatir bisa mendatangkan ilmu dharuri artinya ilmu yakin yang bisa memaksa manusia untuk menga-kuinya secara jujur dan tegas seperti seseorang yang menyaksikan suatu kejadian dengan mata kepala sendiri, sehingga bagaimana dia ragu-ragu lagi untuk mengakui kebenarannya, demikian halnya khabar mutawatir. Oleh sebab itulah semua khabar mutawatir

Bentuk kemonotonan sepanjang pembahasan ilmu hadis akan selalu kita jumpai di dalam buku karya Mahmud ath-Thohan ini, akan tetapi sangat mudah untuk dipahami dan dimengerti khususnya pagi pemula yang ingin memperdalam kajian ilmu hadis.
Demikian sekilas tentang uraian buku ilmu hadis baik karya ulama Indonesia (berbahasa Indonesia) maupun karya ulama Timur Tengah (berbahasa Arab/yang sudah diterjemahkan).  Pada dasarnya karya-karya ulama yang berkenaan dengan Ilmu Hadis secara menyeluruh nampak berbeda dari segi sub pokok bahasan, akan tetapi nyaris memiliki kesimpulan sang senada.  Sebab kajian hadis itu hanya berkisar pada kajian sanad dan matan semata.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon Diisi Dengan Kritik dan Saran Yang Membagun